Sebenarnya, pernahkah kita bertanya, mengapa kita harus membuka kembali kasus lama pelanggaran HAM? Mengapa kita tidak mencoba memaafkan dan membuka, ahem, lembaran baru negeri ini? Bukankah Tuhan itu pemaaf?
Maafkan kalau tulisan ini terkesan tidak tepat secara politis atau tidak berperspektif korban. Soal label urusan nanti. Tapi ini sungguh mengusik, mengapa mengetahui dan meminta pertanggungjawaban jadi tidak penting? Kita bisa memberi jawaban formal, karena negara kita sudah mencantumkan soal HAM dalam pasal 28A sampai 28E, jadi penegakan HAM itu salah satu tugas terpenting Presiden, jadi penegakan HAM itu fenting sekali, segitu pentingnya sehingga diusulkan jadi salah satu bahan debat capres.
Tapi ada kesenjangan disini, mengapa yang menggugat, yang bertanya, yang berteriak hanya orang yang itu-itu saja? Lu lagi lu lagi.
Korban? Bagaimana dengan para korban? Apakah mereka ikut berteriak menggugat? Sudahlah. Kebanyakan dari mereka, kalau tidak di alam baka, kering sudah berteriak, dan tak patut rasanya kita menuntut lebih dari korban. Realitas hidup mereka sudah menghimpit, lengkap sudah konteks sebagai korban.
Kita bisa juga memberikan argumen, dengan berlarut-larutnya penyelesaian kasus artinya Presiden terpilih menganggap sepi penegakan HAM di Indonesia, apakah yang dilakukan oleh militer (dan kepolisian?) atau ’sebatas’ pengabaian hak sipil oleh Negara, apakah artinya penegakan HAM jadi agenda basi penuh pengulangan, yang entah kenapa, media tetap meliput?
Tulisan ini tidak akan mencoba menggugat mengapa masyarakat lupa (dengan berbagai alasan) atau apakah sengaja dibikin lupa. Tulisan ini sekedar racauan bingung bagaimana mengingatkan dan bertanya lebih lanjut, apakah penting untuk ingat, bahwa ada orang yang dimatikan tanpa terbukti bersalah agar sebagian orang bisa tidur nyenyak. Tidak juga bertanya mengapa Negara begitu pasif ketika sekian ratus warganya terusir dari tempat tinggalnya, anak-anak (jelaskan pada saya kenapa generasi baru bukan aset terbaik yang harus dirawat!) yang tidak sekolah dan warga kehilangan mata pencaharian.
Tulisan ini hanyalah tulisan mutung, tulisan ngambek, tulisan orang bingung yang untuk sebagian orang bisa penting tapi untuk sebagian besar lain pasti tidak. Tulisan ini tulisan minder.